tentang harian

Aep, penjual cobek. lelaki cilik nan perkasa

 

pagi ini, 23 Juli 2010, sebenarnya aku tidak terlalu ‘ngeh’ kalo hari ini adalah peringatan Hari Anak Nasional. aku baru tersadar  saat melihat tayangan berita disalah satu televisi swasta yang membahas perjuangan seorang anak manusia.

namanya Aep Saefullah, umurnya 14 tahun. dia harus putus sekolah ditengah jalan sejak ayahnya meninggal dunia. dia harus menjadi tulang punggung keluarga dari ibu dan kedua orang adiknya. setiap harinya dia  harus berjalan berkilo-kilo meter untuk menjajakan dagangannya berupa cobek batu yang diambilnya dari Padalarang.


dengan memikul beban seberat 30kg setiap harinya, rata-rata uang yang bisa dihasilkan hanya sepuluh ribu rupiah. aku tertunduk lesu dan menangis melihat  tayangan televisi itu. terlihat aura wajah yang sangat polos dari wajahnya. dia tidak bersedih, walaupun beban hidupnya berat. dia tidak bisa memilih kehidupannya selain harus tetap menjalaninya dengan ikhlas.

uang sepuluh ribu rupiah! entah cukup untuk apa setiap harinya. nominal yang mungkin buat kita sangat kecil sekali, dan kadang bisa kita habiskan dalam waktu sekejap untuk sesuatu yang belum tentu kita butuhkan. sedangkan AEP harus bermandikan keringat dan merasakan letihnya kaki melangkah untuk meraup uang itu, demi kelangsungan hidup keluarganya.

ya Tuhan, masih ada berapa lagi anak-anak terlantar yang harus berjuang keras untuk tetap bisa bertahan hidup di bumi ini. kita tidak bisa mengharapkan banyak dari pemerintah untuk mengentaskan segala persoalan ini. walaupun di dalam aturan Negara, bahwa anak-anak tersebut harusnya dilindungi dan dibiayai oleh Negara.

AEP seorang anak lelaki yang mungkin masih muda, namun sangat bertanggung jawab. sepulangnya dia bekerja, dia tak lupa sholat untuk menunaikan kewajibannya. mengadu kepada Sang Pemilik Hidup, dan bersyukur atas rizki yang dia terima hari itu. mungkin juga dia lupa untuk berkeluh kesah, karena dia ikhlas menerima semua tanggung jawab ini.

aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.
entah apa yang bergejolak dalam kalbu ini. didompetku ada lebih dari sepuluh ribu rupiah, kemana aku harus mencari AEP…??aku ingin mendatanginya dan berkata “kamu seorang laki-laki yang  hebat, Allah pasti sayang padamu.”

aku mencoba melihat diriku sendiri. memang sampai saat ini aku belum dikarunia seorang anak. aku berusaha tidak mengeluh untuk hal ini. karena ini semua adalah hak prerogativeNya. diluar sana, masih banyak AEP-AEP yang lain, yang sangat memerlukan aku untuk berbagi rasa dan perhatian. anak-anak titipanNya yang memang dibuat kondisinya seperti itu, agar orang seperti aku bisa  berbagi kepada mereka, bisa menolong mereka.

malu rasanya diri ini berkeluh kesah atas ‘ketidak ideal-an’  yang kadang aku alami. sedangkan untuk makan dan minum semuanya sangat berlimpah, aku tidak harus berjalan berkilo-kilo meter untuk mendapatkannya. berbeda dengan Aep dan keluarganya. aku tidak perlu kepanasan untuk  mencari uang sepuluh ribu rupiah.

mulai saat ini aku harus bergerak, bersyukur dan selalu tersenyum, karena masih banyak orang yang memerlukan tenagaku, perhatianku dan kasih sayangku.

dan untuk AEP, semoga setiap keringat yang mengucur di badanmu, setiap langkah kakimu, dan setiap senyum yang engkau tebar kepada setiap pembelimu, merupakan amalan tulus yang akan dicatat dengan tinta emasNya. tak tertandingi, ayah ibumu sangat bangga kepadamu, adik-adikmu akan sangat mencintaimu. karena apa yang engkau lakukan adalah jihad…

aku hanya bisa mengucap, masya Allah, begitu besarnya kuasaMu dalam memelihara hati setiap makhlukMu. bahkan, AEP kecil sudah mengajarkanku untuk tidak lupa bersyukur, untuk selalu mengadukan segala kegundahan hati hanya kepada pemilik hidup. semoga cerita ini juga bermanfaat bagi teman-teman yang lainnya. semoga Allah membukakan hati kita semua melalui hadirnya AEP – AEP yang lain.

2 Comments

  1. AEP ato EEP hampir sama kayak si politikus itu Eep Saefullah…great story…hikks..smoga kita slalu bisa bersyukur.. AMien 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *