tentang harian

sensitif gak sensitif

sekarang ini apa sih yang ga bikin sensitif? kalo dulu mungkin cuma tentang suku, agama dan ras aja ya yang bikin sensitif. kalo sekarang ini kayaknya hampir semua hal deh :D.

dari mulai besarnya gaji, tim olah raga favorit, partai (upss..) lebih-lebih dengan yang namanya status.  saat orang ditanya tentang status, sepertinya sensornya akan lebih tajam dari benda-putih-alat-tes-kehamilan itu 🙂

bahkan di grup bbm saja sempat  terjadi sedikit kericuhan yang berawal dari pembahasan tentang status. entah karena topiknya yang bikin sensitif atau karena orangnya yang merasa jengah dengan pembahasan yang itu-itu aja.

sebenarnya ga salah sih kalo ada yang nanya “kapan kawin?” ke orang yang lajang. mungkin niatnya karena perhatian. tapi kalo setiap ketemu yang ditanya itu-lagi-itu-lagi juga kasian yang ditanya. kita kan tak pernah tau apa yang terjadi dimasa lalunya yang membuat dia memutuskan untuk tidak/belum menikah hingga saat ini.

usaha doong

awalnya saya pun menganggap topik tentang status ini sebagai lelucon. sampai pada suatu saat saya juga*hng…………….* saya  dicurhati teman terdekat tentang masa lalunya. dari ceritanya yang lumayan mengharu biru itu, saya berpikir wajarlah jika sampai saat ini dia memilih untuk tetap sendiri.

saya sendiri juga pernah sangat-sangat sensitif saat setelah setahun pernikahan belum juga hamil. hampir semua teman yang sudah menggendong anak akan bilang “kapan nih dijadiinnya?” atau “kapan nih saya punya keponakan?” sejauh ini semua komentar hanya saya jawab dengan “doakan yaa” minimal dengan senyuman. atau jika sedang in the mood akan saya jawab “kami masih ingin pacaran dulu.” saya sih asik-asik saja. karena saya dan si mas merasa ini bukanlah hal yang betul-betul mengganggu kondisi  rumah tangga kami.

tapi waktu ada yang bilang begini “kapan nih hamilnya? masak kalah sih sama si anu..”  saat itu secara tak sadar saya langsung reflek merespon dengan jawaban “memangnya hamil itu pertandingan ya, sampai harus ada yang menang dan kalah?”  hehehe.. maaf ya, kalau respon saya saat itu terlalu keras.

bukan karena saya tidak ingin dijuluki sebagai yang kalah, hanya saja menurut saya masalah lajang/menikah dan hamil tidak hamil ini bukanlah sesuatu yang bisa dihitung, dijalani oleh kita saja. ada satu pihak penentu yang tidak bisa tidak kita perhitungkan suaranya.

dalam hal kondisi saya ada yang bilang  “makanya usaha dong.” weitss.. sejauh mana kamu tau usaha apa yang sudah kami lakukan? apa kamu tau masa-masa sulit yang kami lalui sebelum ini? ya tentu saja jawaban itu hanya saya ucapkan dalam hati. saya sudah terlalu malas menanggapi. saya takut respon yang saya berikan malah jadi efek yang tidak baik.

memang tidak banyak yang tahu tentang kejadian yang kami alami. mereka semua tidak pernah tahu rasanya divonis trofoblast oleh dokter. yang pengobatannya menggunakan cara kemoterapi. mereka tidak tahu bagaimana saya melewati selama dua belas minggu berselang masa-masa dimana setiap hari harus datang ke RS untuk disuntikkan methotrexate 20mg dan vitamin C dosis tinggi untuk membantu daya tahan tubuh saya. meminjam istilah si mas untuk masa-masa ini adalah masanya “setor bokong”. ya karena datang ke RS cuma buat disuntik lalu pulang lagi. jangan ditanya rasanya, sudah pasti ga enak.

walau mungkin yang saya alami belum seberapa, sedikitnya ikut merasakan bagaimana hopelessnya para pasien kanker itu. dan ini semua kami jalani dalam rangka usaha kami.

jasinpo, kami tidak diam

pastinya setiap orang akan melakukan usaha sesuai kemampuannya untuk hidup yang lebih baik. tapi sekali lagi kemampuan dan jenis usaha setiap orang berbeda. jadi tidak perlulah pukul rata, harus begini harus begitu.

nulis ini bukan bermaksud pingin curhat. cuma pingin supaya teman-teman yang masih sering bilang “makanya usaha” atau “kapaaan” ke kami atau ke teman-teman yang masih lajang,  tahu bahwa kami tidak berdiam diri. meski kami tidak harus gembar gembor ke semua orang kaan.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *