tentang harian

mitoni

hari rabu tanggal 26 september 2012 yang lalu, kira-kira pukul 19.00 wib. tepatnya setelah waktu sholat maghrib dihitung sebagai hari lahir saya secara jawa. kamis wage. dan dihari itu pula dipilih oleh para sesepuh sebagai hari yang baik untuk melaksanakan prosesi mitoni alias nujuh bulan kehamilan.

meski sebenarnya usia kandungan belumlah genap 7 bulan atau 28 minggu, karena saat itu usia kandungan baru menempuh waktu 27 minggu sekian hari. alasannya kenapa dimajukan adalah karena dibulan oktober secara penanggalan jawa tidak ada hari kamis wage.

kamis wage akan ada lagi diawal bulan november. jika proses mitoni dilakukan diawal november, waktunya akan tidak baik buat kami (saya dan si jabang bayi). serta banyak lagi alasan lainnya yang saya sendiri bener-bener gak paham.

meski saya berasal dari keluarga jawa, saya merasa sangat tidak familiar dengan prosesi ini. sehingga saat ibu mertua menyarankan untuk mempersiapkan diri untuk menjalani proses ini, saya dan mas sempat bingung. apa yang harus kami persiapkan

beberapa hari sebelumnya, bermodalkan googling disana-sini, kami menemukan artikel tentang mitoni disini. pastinya acara yang akan kami jalani tidaklah sama persis dengan semua yang tertulis disini. tapi setidaknya mirip-miriplah yaa..

tiba dikampung mas, di daerah blambangan banyuwangi, hari rabu siang. didapur suara ibu-ibu riuh rendah. memasak sambil sedikit-sedikit menertawakan guyonan. yang entah apa sih yang ditertawakan. beberapa jenis masakan sudah matang dan sedang disajikan.

ada tujuh gunungan nasi, ayam ingkung, urap sayur, jadah ketan, jenang procot, rujak dan dawet dan b(u)anyak (sekali) yang lainnya. yang kesemuanya punya arti/doa bagi keselamatan ibu & bayi baik saat kehamilan maupun kelahiran nantinya.

yang menarik buat saya adalah ‘jenang procot’ dan ‘jadah ketan’. namanya dan bentuknya unik dan sepertinya(agak) sedikit eksotis. ternyata jenang procot ini dimaksudkan agar saat melahirkan nanti lancar dan si ibu tidak terlalu lama merasakan sakitnya. dan jadah ketan dimaksudkan agar saat si bayi lahir ASI langsung mengalir dengan derasnya.

malamnya, rombongan bapak-bapak datang. masuk melalui pintu belakang, mengambil makanan dan langsung menuju ruang depan. makanan yang banyak itu dibawa oleh setiap orang satu macam makanan. makanan dan si pembawa tidak boleh bolak-balik melewati jalan yang sama. dimaksudkan agar bila sudah waktunya lahir, si bayi melewati jalan lahirnya dengan mudah.

setelah semua makanan selesai dibawa keruang depan. mereka memulai membaca banyak doa. sedangkan saya dan si mas sudah disiapkan untuk acara siraman. dipimpin oleh seorang ibu yang biasa menolong kelahiran proses siraman dimulai.

lalu dilanjutkan dengan ‘mecah kampil’ yaitu membelah dua buah kelapa gading muda yang sudah digambari. masing-masing bergambar Dewi Kamaratih dan Pangeran Kamajaya. saat si mas membelah kelapa, ibu-ibu undangan langsung berteriak “wedhoook” karena menurut mereka posisi belahan kelapa lurus yang artinya si jabang bayi ini perempuan

kemudian ‘dodolan’ yaitu menjual rujak dan dawet. rujak yang dibuat dari tujuh macam buah yang katanya jika rasa rujak enak maka anak yang dikandung adalah bayi perempuan. dan sebaliknya. dodolan seharusnya menggunakan uang koin yang terbuat dari tanah liat kering untuk membayarnya. tapi karena tidak sempat lagi mempersiapkan, maka diganti dengan uang koin receh. dan malam itu kami berhasil menjual habis dawet dan rujak. total penjualan 87ribu hahaha.. lumayan, buat tambahan beli perlengkapan si bayi nanti 🙂

yang bisa saya simpulkan dari keseluruhan acara, mitoni merupakan ungkapan syukur kepada sang Pemilik Hidup karena sudah diberi kesempatan memelihara kandungan selama tujuh bulan. sekaligus doa dan harapan agar proses kehamilan ini diakhiri dengan lancar dan diberi keselamatan bagi ibu dan bayinya. semogaa..

arti dari masing-masing prosesi mitoni ini dituliskan berdasarkan terjemahan oleh simbah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *