tentang sahabat

Kekerasan atas nama Cinta

Hubungan yang baik seharusnya tidak menyisakan ketakutan dan trauma ~ AE

ini sebenernya latah, efek cuti lama dan jadi pemirsa tetap infotainment jadi ajah ikut-ikutan komen kejadian yang lagi anget-angetnya. tapi bener banget tulisan itu. gak kebayang kan kejadian yang dialami ardina rasty. cuma kalo saya sih bisa mbayanginnya. gimana sakitnya, gimana kuatnya keinginan untuk pergi, gimana rasanya menghabiskan hari-hari dengan rasa takut dan betapa bodohnya karena masih saja bertahan ditempat yang sama.

 jadi inget kejadian beberapa tahun lalu. ih pengalaman pribadi neng? mmm.. kasi tau gak yaa 🙂 bukaaaan. bukan itu maksudnya. saya jadi inget kejadian beberapa tahun lalu. lupa tahun berapa, yang jelas tanggal 14 februari. waktu itu niatnya sih pingin makan malem diluar, biar kayak abege-abege yang ngerayain valentine sama pasangannya gitu hehe..

ternyata hampir semua tempat makan penuh banget. dari tempat makan yang murah dipinggir-pinggir jalan sampai di resto-resto mahal. hasilnya ya kami cuma berputar-putar dijalan lalu pulang dengan keadaan perut tetap lapar.

 dijalan dekat rumah, kami sempat berhenti demi melihat pertengkaran 2 orang. Laki-laki dan perempuan. awalnya mereka hanya adu mulut. lalu suara semakin keras dan akhirnya “bugh!” saya shock banget waktu lihat si laki-laki menghantamkan helm ke wajah si perempuan.

makjaan. entah ya apa hubungan mereka berdua. kakak adik kah? suami istri kah? atau masih pacaran? tapi apapun hubungan mereka, yang dilakukan si laki-laki itu tetaplah sebuah kejahatan.

14 februari itukan diklaim sebagai hari kasih sayang, tapi yang saya lihat justru sebaliknya. kasihan perempuan itu. menyakiti secara verbal saja cukup lama penyembuhannya. apalagi menyakiti fisik. pastinya akan menimbulkan trauma.

pengalaman seorang teman wanita, sebut saja dia dewi. mungkin agak sedikit mirip dengan yang dialami rasty. pacaran sudah bertahun-tahun lamanya. diawal tahun semua baik-baik saja. ditahun kedua pertengkaran mulai diwarnai suara-suara keras. ditahun berikutnya mulai ada ancaman akan ditinggalkan jika begini atau begitu. terakhir saat mereka mulai bertengkar lagi malah dewi sampai harus menumpang menginap dikamar kos saya berhari-hari demi menghindari pacarnya. waktu saya tanya, kenapa masih mau bertahan dengan kondisi yang sama terus menerus. jawabnya: karena CINTA.

segitu beratnya ya pengorbanan dewi untuk mempertahankan cinta. dan seringnya pelaku penganiaya juga melakukan tindak penganiayaan dengan alasan sayang/cinta. ish heran kan, cinta model apah coba ya. padahal seandainya pun mereka itu menikah, pasti keadaan mereka jelas tidak mungkin sama seperti saat awal-awal pacaran. apalagi, setelah menikah rasa cinta hanya tinggal sekitar 40% saja bahkan mungkin kurang dari itu. sisanya adalah pengertian, peduli, setia dan percaya dll. untungnya dewi segera move on. sehingga dia tidak harus terus bertahan dengan kondisi seperti itu.

baru-baru ini saya bertemu dewi lagi. sambil lalu kami mengobrol tentang kejadian-kejadian dulu. dia mengaku bahwa ternyata dulu dia mencintai orang yang salah. ah sudahlah, yang penting sekarang ini dia baik-baik saja. semoga dewi-dewi lain diluar sana segera sadar dan diberi keberanian lebih untuk segera pergi dari serigala berbulu domba #halah cinta yang salah.

One Comment

  1. dalam banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga (tak harus suami istri), perempuan yg lebih sering jadi korban. ironisnya tak sedikit yg memilih bertahan karena malu utk membuka aib keluarga.

    padahal ya seharusnya bawa saja ke polisi. biar tahu rasa itu laki2.

    btw, apa kabar si adik?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *