tentang harian

Disini polisi tak bergigi

mercedes_benz traffic light

sudah enam bulan kami berdomisili di mataram ini. sudah boleh disebut  warga Mataram doong.. kan surat ijin tinggal sementara biasanya berlaku selama tiga bulan aja sedangkan kami sudah melewati batas tinggal sementara, berarti sudah dianggap jadi warga tetap, yaa meski masih belum punya kartu identitas warga alias KTP sih.. iyah kami masih dualband. Denpasar dan Mataram.

mm.. sudah mulai tau sedikit-sedikit tentang budaya setempat, sudah mulai hafal dengan kebiasaan-kebiasaan warga disini. dengan kata lain karena sudah bukan tamu lagi, boleh dong dikit aja berkomentar tentang kondisi disini. jadiii di Mataram ini suhunya hampir sama dengan Denpasar. dengan luas kurang lebih setengah dari luas kota Denpasar disini masih terbilang luas. apa mungkin karena penduduknya masih jarang ya?

yang paling kerasa sih dijalan rayanya. masih agak lengang. ya iyalah, mbandingin kok dengan Denpasar. sepertinya jumlah kendaraan disini baru setengahnya. jam sembilan malem gitu bisalah kalo mau gegulingan dijalanan. udah sepi cyin..

kalo di Jogja jalanan selain diisi mobil dan motor, juga rame andong dan becak, disini rame cidomo. cidomo adalah angkutan umum kereta kuda, uniknya cidomo adalah rodanya pake ban mobil. denger-denger dari cerita teman yang asli penduduk mataram sih cidomo itu singkatan dari cikar dokar motor. ada sebutan “motor” nya karena pake ban mobil itu tadi.

di Mataram, cidomo lebih sering terlihat mangkal dipasar-pasar tradisional. target penumpangnya adalah ibu-ibu penjual/pembeli barang dalam jumlah banyak. sedangkan di Gili Trawangan cidomo menjadi alat transportasi utama. selain sepeda gayung.

balik ke awal. jalanan disini masih sedikit yang ada garis pembatas jalannya. karena itu yang melewati jalan juga kadang agak-agak lupa diri. semua jalur dipake sendiri J meski sebenernya garis pembatas jalan atau rambu-rambu disini gak begitu berfungsi. garis marka yang biasanya ada disetiap traffic light itu seperti gak ada fungsinya. saat traffic light berwarna merah, tak sedikit kendaraan yang berhenti didepan garis marka. lalu gimana ya caranya mereka tahu lampu udah hijau apa belum ya?  lha memang mereka gak perlu lihat warna lampu. asal ada kesempatan menerobos ya mereka terobos. kesadaran taat aturannya menyedihkan sekali disini. aksi terobos lampu merah itu gak Cuma dilakukan oleh pengendara motor aja, mobil dan cidomo juga. yang paling banyak sih motor-motor.

lalu lintasmasih inget  waktu di Denpasar, meskipun cuma kelihatan duduk-duduk doang di perempatan pasti ada polisi. meskipun (maaf ya) keberadaan pak polisi ditakuti karena tilang-tipu-tipu. tapi ga usah coba-coba deh, kalo berhenti didepan garis marka à tilang, gak pake helm à tilang, gak berhenti saat lampu merah à ya dikejar! J. di Mataram sini ga ada polisi. orangnya sakti sakti. naik motor gak pake helm? udah biasaaa..  berhenti didepan garis marka? disini pake prinsip gak mau kalah. kalo ada motor berhenti 30senti didepan garis marka, maka motor berikutnya akan berhenti di 60 senti lebih depan. dan motor berikutnya lagi akan berhenti di 90senti didepannya lagi begitu seterusnya.. hingga akhirnya mereka berhenti ditengah-tengah jalan. awalnya saya sempat terheran-heran dengan pemandangan ini. kalo sekarang udah biasa. malah jd hiburan kalo pas lagi di lampu merah

lewat dari dua bulan barulah saya melihat keberadaan polisi dijalanan. tapi begitu ada yang nyelonong lampu merah ya pak polisi itu cuma melihat aja. bahkan sempat lihat ada dua motor yang jatuh karena saling srempet, pak polisi cuma mendekat entah ngomong apa, lalu kembali lagi ke tempat semula tanpa ada tindakan apapun buat dua pengendara motor itu. jadi ya didiemin ajah gitu. lah kok? lah kok?

ternyata ada yang sudah pernah menulis tentang cerita ini juga. bisa jadi ini kendala bagi pak polisi karena pengendara itu sudah kadung semaunya yang meski ditilang pun gak mengubah keadaan. atau mungkin karena pengendara melihat ada atau engga ada polisi kondisi selalu demikian adanya. faktor kebiasaan berperan juga. terbiasa dibebaskan dan terbiasa tanpa aturan. terbiasa semau-gue. miris. kalo buat yang suka trek-trekan, disini bisa jadi surga. ga perlu takut ada polisi. paling banter hanya dilihat aja. karena polisi disini tak bergigi (ini istilah saya :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *