tentang harian

waktu yang tak pernah kembali

life time

seminggu lalu adalah kesempatan kami untuk pulang ke Jogja. kesempatan kami untuk bertemu dengan hampir semua keluarga besar. bertepatan dengan momen pernikahan salah satu keponakan. agak takjub juga karena kejadian yang tidak biasa ini. bukannya lebay, tapi mempertemukan keluarga dari berbagai tempat itu luarrr biasa bagi kami yang berjauhan ini. Jogja, Lampung, Palembang, Tangerang dan Mataram, meski yang datang belum komplit, paling tidak ada perwakilan dari masing-masing kepala keluarga. wajarlah jika kakak saya sang tuan rumah sempat menangis haru pada pertemuan pertama (entahlah ini acting atau lebay).

Alhamdulillah kegiatan demi kegiatan sampai hari H berjalan lancar. sampai pada saat yang sangat mengharu biru. yaitu saat perpisahan antara ibu dan anak. karena sang keponakan akan pindah mengikuti suami kekota lain. sebenarnya ini pemandangan yang sudah biasa terjadi. dimana anak akan pergi meninggalkan orang tua untuk kemudian membina rumah tangga barunya. mungkin ini juga yang dirasakan orang tua kami saat kami meninggalkan mereka.

yang saya pikirkan kemudian adalah, ternyata seperti itu rasanya berpisah karena anak-anak menikah. ada secuil rasa sedih yang tahan lama diantara sejuta bahagia. tahan lama meski tanpa bahan pengawet.

karena saya yakin sekali, malam-malam sesudahnya kakak saya akan berurai airmata dalam kesepian. mungkin untuk mengisi sepinya dia akan mengingat ribuan hari sebelumnya masih sibuk menyuapi, menyiapkan seragam, mengingatkan untuk membuat tugas sekolah. mengingat pertengkaran-pertengkaran kecil yang terjadi ratusan hari sebelumnya. kemudian kembali sadar bahwa rumah sudah semakin sepi tanpa teriakan “mooooom…” atau “eboooooo…”. saya yakin sekali setiap harinya dia akan masuk kekamar anaknya, cukup puas hanya dengan memandang foto-foto yang bertebaran didinding…*peluk erat buatmu mbak*

pengalamannya ini menunjukkan dua puluh tiga tahun waktu jadi terasa sangat sebentar. dan momen-momen yang terjadi gak akan mungkin terulang lagi. itu membuat saya berhenti sebentar, merasakan lebih dalam “cerita” saya yang sedang berjalan saat ini. tentang perkembangan anak, anak susah makan, rewel karena kurang sehat, ataupun kesibukan mainstream ibu-ibu pekerja dan lain sebagainya. karena masa-masa ini akan terlewati. sedih dan senang saat ini hanya akan jadi cerita diwaktu yang akan datang. semoga saya selalu bisa menjadikan setiap hari menjadi pelajaran berharga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *