tentang harian

why I wear this hoojab

hijab4

sejak beberapa bulan terakhir ini saya memang memutuskan untuk ‘menutup diri’ dengan berhijab. agak telat memang. setelah sekian banyak ajakan, bujukan bahkan kadang-kadang juga teguran keras yang masuk kekuping kanan sukses keluar lagi lewat kuping kiri. seperti biasa, alasan klasik saya adalah: belum siap. meskipun tau ini kewajiban.

sampai pada saat tertentu, bertemu suatu momen yang sangat melankolis-heroik. membuat saat itu juga memutuskan  bahwa inilah saatnya. hampir semua orang menyambut baik keputusan ini, ada pula beberapa orang dari teman dan kerabat yang selalu menanyakan alasan kuat saya.

jawaban pertama pada saat menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi tentu saja sangat tidak serius. seperti “lagi acting jadi perempuan baik-baik macem kek disinetron” atau “mau persiapan bikin poto selpih edisi Ramadan” **ngomong gitu sambil nyengir tentunya**

oya, saya sama sekali gak punya alasan bagus untuk diucapkan seindah kalimat yang sering diucapkan teman-teman hijaber lainnya. saya juga gak punya deretan kalimat indah untuk mengajak teman-teman yang belum berhijab. karena menurut saya, ini benar-benar individual. setiap orang punya alasan sendiri selain dari kata kewajiban. begitupun saya. alasan yang sesungguhnya belum pernah terucap sama sekali. alasan sesungguhnya adalah karena: SAYA MALU.

iyah, saya malu. karena sudah terlalu banyak kemudahan dan nikmat yang saya dapat. karena sudah terlalu banyak permohonan dan doa yang terwujud. sudah terlalu banyak kesempatan yang diberikan. saya jadi malu untuk menghindar lagi dari kewajiban saya. rasanya saya ini ya gak suci-suci amat, tiap hari nambah dosa terus. lha kok malah terus-terusan ngeles dari kewajiban sih ya.

jeleknya sih gini, kalo gak bisa ngasih uang belanja lebih mbok ya tunggakannya dilunasi dulu biar gak nambah banyak hutangnya.. begitu pula tentang ini. kalo belum bisa melakukan lebih, paling nggak yang jadi kewajiban dikerjakan dulu. itu kalo saya.. bener kan.. alasannya sama sekali gak ada indah-indahnya seperti yang lain hehe..

selain alasan aneh itu, ada suatu kejadian yang saya lihat sendiri. saat sedang antri di ruang ATM. di barisan sebelah ada seorang perempuan bekerja masuk dalam antrian. pakaiannya biasa, gak terlalu seksih juga. rok selutut, dan atasan hem batik seragam instansi, sepatu flat dan tas. sederhana. meski cantik adalah sesuatu yang susah terukur, sebenarnya perempuan itu termasuk biasa skala cantiknya. tetapi entah kenapa laki-laki disekitarnya melihatnya seperti lihat sesuatu yang gak biasa. memandangi si mbak dengan cara yang gak biasa. saya kok merasa gak terima ya dengan cara laki-laki itu memandang si mbak itu. semacam pandangan mesum atau apasih namanya. pingiiin rasanya saya mendekat ke laki-laki itu dan injek kakinya. biar dia tau kalo cara dia memandangnya jorok banget. sayangnya keberanian saya cuma ada dalam pikiran aja. dan saya masih tetap berdiri maju selangkah demi selangkah dalam barisan antrian ini.

hari itu dan beberapa hari setelahnya kejadian itu masih tetep muter-muter diingatan. saya seperti diingatkan lagi bahwa benar perempuan adalah indah. semua yang ada pada perempuan adalah indah. semacam disadarkan dengan maksud kalimat ini..  “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia, dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” QS.3:14

sejak kejadian di ATM itu, saya semakin ngeri. kalau yang berpakaian normal aja masih dipandangi dengan cara yang gak sopan begitu, apalagi yang bagian terbukanya agak lebih. ok, tergantung laki-lakinya juga.. tapi gak ada salahnya jika saya “menutup diri” sebagai usaha melindungi diri sendiri. ini sih menurut saya. maaf untuk yang gak berkenan dan punya pemikiran beda ya. karena tiba-tiba itu yang membuat saya sadar. kenapa ada perintah untuk berhijab.

dulu saya pernah sebal karena selalu diingetin hal yang itu-itu aja tentang berhijab. saya juga pernah menghindar karena bosan dari semua topik pembicaraan tentang berhijab. saya juga pernah antipati dengan cara mereka berdakwah. mungkin karena saya belum menemukan alasan yang pas-buat-saya. atau bisa jadi ini juga sudah jadi takdir (agak serem ih bahasanya).

saya gak bilang saya cantik lo yaa. tapi saya merasa saya cantik (penting banget hihi..). dan saya gak ingin kecantikan ini membuat saya jadi sombong dihadapanNya. sombong sampai harus menghindar dari perintahNya. meski masih jauh dari sempurna, masih taraf belajar, masih pingin pake kerudung dengan gaya yang macem-macem, masih pingin terlihat modis.. tapi mohon doanya ya, semoga saya tetap berpikir seperti ini seterusnya. Amiiin…

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *