tak berkategori

Working Mom vs Full Time Mom (?)

 

working-mom

mungkin lebih tepat bila judulnya diganti dengan “latah yang terlambat”. beberapa minggu lalu saya terus-terusan disuguhi artikel tentang perdebatan antara ibu rumah tangga yang juga bekerja diluar rumah (working mom) dan ibu rumah tangga yang pekerjaan dan seluruh kegiatannya dilakukan dirumah (full time mom). sebenarrnya sih ini masalah klasik yang selalu berulang-ulang. yaa semacam musiman begitu, dan akan ada saatnya reda sendiri. berita ini lagi banyak ditulis dihampir semua media sosial. tulisannya beragam, ada yang jelas-jelas memihak full time mom ada pula yang agak-agak memihak. dan seperti itulah juga saya, ikutan latah nulis perihal yang sama, hasil dari keresahan saya sendiri.

alasan saya nulis ini karena saya merasa termasuk working mom dan saya merasa resah. dari semua artikel tentang itu sedikit saja yang netral (atau bisa jadi sayalah yang belum nemu artikel netral lainnya) sisanya adalah memihak full time mom. atau dari yang awalnya berusaha berempati dengan dengan working mom lalu ujung-ujungnya tetap dengan penilaiannya bahwa full time mom adalah lebih baik daripada sebaliknya. pernah lihat postingan chat seperti ini kan di medsos?

ibu-bekerja

jawaban si “Saya” di akhir chat itu sangat pedih Jendral! lebih menyedihkan lagi bahasa yang dipakai “Saya”. meskipun saya mencoba berpikir “ah sudahlah, medsos memang menyakitkan”. tapi, saya masih penasaran dengan chat ini. siapa sih yang buat? apa ini kejadian sesungguhnya atau rekaan belaka? soalnya saya sering baca status teman-teman full time mom yang isinya seolah-olah dikecilkan perannya. padahal yang saya tau, hampir semua working mom pun memimpikan ada diposisi yang sama. berada dirumah, ngurus anak, masak, bersih-bersih rumah sambil nonton infotainment, jualan di online shop sambil dasteran dan nunggu suami pulang. Itu semua kondisi ideal yang diharapkan hampir semua perempuan (hampir semua!). jadi seharusnya gak ada full time mom yang berpikiran merasa disisihkan atau apalah namanya. atau mungkin ada beberapa orang yang masih sempat berpikir begitu

seperti belum cukup dengan balasan di akhir chat yang menyakitkan seperti itu, ada lagi artikel yang dishare oleh beberapa teman, ada kalimat “ibu yang berada dirumah surganya lebih dekat”. atau kalimat “untuk apa kerja kalau hanya demi untuk kelebihan beberapa lembar uang dan ninggalin anak dirumah”. astagaaa, ternyata masalah ini sudah sampai ke surga. saya belum pernah membayangkan gimana sih surga itu. yang saya tau cuma sebatas yang saya baca di terjemahan Al Quran saja. kalau surga dunia sih karena sifatnya relatif jadi pasti surga dunia saya akan beda dengan yang lain. buat saya, melihat anak makannya banyak, suami lahap makan masakan saya, lihat rumah bersih itu sudah jadi surga 🙂

dan hei.. kebutuhan kita ya hanya kita yang tahu jumlahnya. lalu kenapa harus ada kalimat demi untuk kelebihan beberapa lembar uang? gimana seandainya kelebihan beberapa lembar itulah yang dia perjuangkan untuk masa depan anaknya?

intinya sih, mau jadi working mom atau full time mom itu pilihan. semua pilihan punya konsekuensi. yang pasti sudah dipikirkan matang-matang oleh semua ibu. kalaupun pilihannya adalah menjadi working mom dan akhirnya harus menitipkan anaknya di day care, yaa.. hormatilah pilihannya. saya yakin ibu-ibu seperti ini juga berangkat kerja dengan setengah hati karena harus meninggalkan anaknya. dan kalo ada  yang berpikir “kalo memang pinginnya gak kerja ya udah, tinggal resign aja beres kan.” hehe.. kadang-kadang pilihannya gak semudah itu. seperti ucapan salah seorang teman, yang menurutnya saat ini working mom bukan lagi sebuah pilihan. tapi kewajiban. demi meningkatkan taraf hidup yang lebih baik. nah kan, mungkin saja dikondisinya pilihan yang ada hanya itu.

akhirnya, semua kembali ke niat. yang saya tau dari sahabat sekaligus ayah saya, selama segala sesuatu diniatkan karena Allah dan caranya sesuai dengan ajaran islam maka itu baik. jadi untuk hal ini, untuk saya pribadi selama cara saya yang saya lakukan baik, gak menyalahi aturan islam, halal, niat saya baik dan yang terpenting adalah mendapat ijin dari suami. Insya Allah karena suami sudah ridho saya bekerja diluar rumah, semoga Allah juga mengijinkan. That’s it!

sudah ya buibu.. urusan rumah tangga biarlah jadi urusan masing-masing keluarga. jika niatnya saling nasehat menasehati supaya baik, gunakanlah cara yang baik. minimal dengan kalimat yang baik. kalaupun nasehatmu belum berhasil, paling tidak gak perlu ada hati yang tersakiti.

ealaaah… mikirin menu buat besok saja sudah cukup mbingungi. ditambahi galau beginian pulak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *